Berhenti di SPBU di depan pasar bunga kayoon membuat saya sedikit terheran-heran. Selain karena letaknya yang njelimet — dan saya yakin yang punya pasti orang punya pengaruh soalnya kok bisa di areal itu ada SPBU — juga karena pada sektor motor, para konsumen dilayani para perempuan.

Iya, perempuan bekerja di sektor SPBU bukan hal baru. Yang baru bagi saya adalah di SPBU tersebut, para — hmm, saya tidak tahu istilah yang tepat untuk ini — SPBU-person yang berjenis kelamin perempuan ini berdandan menawan. Berdandan. Tetap dengan seragam merah khas SPBU, tapi berdandan. Kosmetik lengkap, bedak, gincu dan tak ketinggalan, parfum harum mewangi. Seperti memasuki areal kosmetik.

Tentu, tetap tak bisa menghilangkan bau premium atau pertamax yang menyeruak. Tapi, tampilan menawan para perempuan ini menjadi pemandangan langka. Mungkin juga para pria pada sektor yang sama, mencoba strategi serupa.

Mahal itu Menjual

October 21, 2011

Sekilas, menatap papan reklame raksasa di perempatan jalan keputran, disebelah rumah sakit siloam, mata saya terpancang pada tagline sebuah apartemen: “The Most Expensive Apartment in Downtown”. Ya, ada copy di sebelahnya menyiratkan hal yang sama “If luxury is a value”. Mungkin karena saya bukan segmen mereka, saya hanya bisa berdecak. Ternyata, harga tidak lagi sensitif, sehingga harga yang mahal — bukan kemewahan, kemegahan atau nilai jual yang lain — sekarang ini bisa dijual. Apartamen paling mahal di tengah kota.

Jika saya yang memasang iklan itu, mungkin saya berani jika berkata “the most exclusive apartment in downtown”, atau malah jika saya memang jualan, saya akan berkata “the cheapest apartment di downtown”. Pikiran buruk saya berkata, jangan-jangan mereka salah tulis.

Tapi, tidak. Saya kok yakin mereka memang tidak salah tulis. Banyak konsumen sekarang justru memburu produk dengan harga mahal. Bukan karena core value produk itu, Tapi, personal dan social value yang disimpan dalam harga produk tersebut. Orang akan bangga jika orang menyebut produk yang mereka beli adalah produk mahal.

Saya jelas bukan segmen produk itu. Karena, jika ada orang yang menyebut produk yang sudah saya beli harganya atau terlihat mahal, maka saya seringkali menyesal dan merasa bersalah. “Sialan, aku ditipu penjualnya. Kurang berani nawarnya..”

Teman

July 22, 2011

Sebetulnya, paling susah mendefinisikan teman. Lebih susah daripada musuh. Orang terdekat dengan kita, bisa kita sebut dengan teman. Orang yang ada hampir di setiap saat, kita sebut dengan teman. Tapi, sebaliknya, orang yang menusuk kita dari belakang, juga kita sebut teman. Musuh tidak mungkin menusuk dari belakang, karena kita tahu dia musuh.

Kutu Kupret

July 15, 2011

Jika kau ingin tahu, siapa saja orang yang penuh prasangka, penebar kebencian, pembunuh citra orang, cari saja orang yang penuh kutu kupret. Darah-darah kotor berkumpul di kepalanya, dan para kutu kupret itu berpesta pora menyedotnya. Orang seperti itu akan lebih suka menebar kebencian kepada orang lain ketimbang menghitung berapa liter darahnya yang sudah hilang disedot.

Take every moment, you know that you own them
It’s all up to you to do whatever you choose
Live like you’re dying and never stop trying
It’s all you can do, use what’s been given to you

Lenka

Documentary

July 15, 2011

“I understand most of our undergraduate students prefer to make a narrative film. It sounds cool. It seems fantastic. You know, having your name on big screen. But, we, for our master students in particular, will focus on documentary only. It is simply because documentary has more opportunity to be on market rather than narrative films. You have to fight with blockbuster movie to get a chance to be screened in cinema. If you have documentary, you don;t need to. Simply call the local TV station, and your work will be watched by thousands, may bye million people…” Prof. Eugene Martin, University of North Texas.

I think this will be my consideration to arrange a new curriculum for our comm-dept.

Social Media

July 15, 2011

I have visited 6 institutions, and talked with key-person on it.We had amazing conversation. And, some how, we have one big conclusion. We agree on one thing: social media is a revolution.

Mimpi

July 15, 2011

Aku selalu bermimpi. Aku tidak akan mau berhenti bermimpi.
Karena, sekali saja aku berhenti bermimpi, maka itu artinya aku mati.

Apresiasi

July 15, 2011

Kita tidak pernah belajar mengapresiasi. Kita terbiasa memuji diri sendiri.
Maka, saat ada teman yang mendapat prestasi, atau mungkin sekedar kemajuan yang berarti, seringkali kita hanya mencibir dan iri hati.

Oh, mungkin hanya selevel itu yang kita bisa.

Pakaian

July 15, 2011

Sungguh, kenapa pakain menjadi kebutuhan primer, tidak semata karena ingin menutupi aurat. Yang terkadang tidak berharga ditutupi.
Banyak kejadian menyadarkanku, pakaian sesungguhnya alat sulap paling murah untuk memanipulasi orang lain.

Cukup dengan mengubah rupa, bersalin baju, maka kita bisa menjadi religius.Walau sambil mengenakan pakaian itu, kepala dan hati kita tetap penuh prasangka, kebencian.

Hei, bukankah kita lebih senang melihat pakaian ketimbang kebenaran?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.