Mahal itu Menjual
October 21, 2011
Sekilas, menatap papan reklame raksasa di perempatan jalan keputran, disebelah rumah sakit siloam, mata saya terpancang pada tagline sebuah apartemen: “The Most Expensive Apartment in Downtown”. Ya, ada copy di sebelahnya menyiratkan hal yang sama “If luxury is a value”. Mungkin karena saya bukan segmen mereka, saya hanya bisa berdecak. Ternyata, harga tidak lagi sensitif, sehingga harga yang mahal — bukan kemewahan, kemegahan atau nilai jual yang lain — sekarang ini bisa dijual. Apartamen paling mahal di tengah kota.
Jika saya yang memasang iklan itu, mungkin saya berani jika berkata “the most exclusive apartment in downtown”, atau malah jika saya memang jualan, saya akan berkata “the cheapest apartment di downtown”. Pikiran buruk saya berkata, jangan-jangan mereka salah tulis.
Tapi, tidak. Saya kok yakin mereka memang tidak salah tulis. Banyak konsumen sekarang justru memburu produk dengan harga mahal. Bukan karena core value produk itu, Tapi, personal dan social value yang disimpan dalam harga produk tersebut. Orang akan bangga jika orang menyebut produk yang mereka beli adalah produk mahal.
Saya jelas bukan segmen produk itu. Karena, jika ada orang yang menyebut produk yang sudah saya beli harganya atau terlihat mahal, maka saya seringkali menyesal dan merasa bersalah. “Sialan, aku ditipu penjualnya. Kurang berani nawarnya..”
Mahal itu seksi
hehehehe….mahal itu sesuatu